Feeds:
Tulisan
Komentar

ANGIN DAN SANG GURU

Gunung itu menjulang begitu tinggi hingga puncaknya seperti menembus langit dengan awan-awan yang mengitarinya. Begitu tegar berdiri ia, ungu dengan lerengnya tertutup lapisan-lapisan kabut yang mendekap lembut seperti selimut. Sunyi, hanya suara-suara angin yang berbisik, sesekali lirih binatang-binatang hutan menambah misteri dan membawa suasana ke dunia gaib yang tersembunyi.

Nun di kakinya berdiri sesosok manusia. Wajahnya yang teguh begitu dingin dengan mata yang setajam belati. Sepintas ia seperti manusia biasa berusia dua puluhan. Hanya saja rambutnya yang sudah keperakan tak bisa sembunyikan usia yang sebenarnya. Dari sorot matanya yang setajam belati berlompatan kenangan hidup yang berabad-abad lamanya. Dari peluh yang membasahi tubuh dan wajahnya terlihat perjalanannya yang panjang. Adakah ia datang dari puncak gunung? Dari puncak yang menembus langit?

Angin yang mengalir di sela-sela daun begitu terusik keingintahuannya. Dengan perlahan ia mengitari sosok manusia itu yang masih berdiri menatap tajam pada desa-desa dan kota-kota manusia yang ada di kaki gunung, seperti mencari sesuatu. Angin masih mengitarinya. Mencoba mengambung aroma tubuhnya, meraba-raba kulit tubuhnya, mencari tahu, siapa gerangan sosok manusia laki-laki bersorot mata belati ini? Adakah wajahnya yang teguh dan dingin ini mencari sesuatu?

Sosok manusia laki-laki itu kemudian duduk di atas batu di dekatnya. Membiarkan saja dan tak peduli pada angin yang mengitarinya. Matanya yang belati itu masih menatap tajam ke bawah, menatap tajam pada desa-desa dan kota-kota manusia, seperti mencari sesuatu. Angin masih mengalir dan mengitarinya, mencari tahu. Hingga pada batas kesabaran, sang angin bertanya,

“Siapa gerangan wahai anda saudara?”

Sosok manusia laki-laki itu tak menjawab. Wajahnya yang teguh masih begitu dingin dan beku.

“Adakah kau datang dari puncak gunung?”

Sosok manusia laki-laki itu menghela nafas, begitu dalam. Angin yang begitu penasaran tak berniat menyerah.

“Wahai saudara, aku tak mengerti bahasa mata.”

“Aku tak memintamu untuk mengerti,” sosok manusia laki-laki itu akhirnya bersuara.

“Adakah kau manusia?”

“Aku manusia. Dan akulah sang guru.”

“Benarkah? Siapa muridmu?”

“1.000 manusia.”

“Yang mana?”

“1.000 manusia di antara semua manusia.”

“Siapa saja mereka?”

“Kau tak akan tahu.”

“Di mana muridmu?”

“Akhirat menginginkan mereka.”

“Surga atau neraka.”

“Bukan urusanmu.”

“Kau sedang mencari mereka?”

“Hanya satu.”

“Di mana yang lain?”

“Akhirat menginginkan mereka.”

“Sudah berapa lama kau menjadi guru?”

“Berabad-abad sebelum keingintahuanmu menggangguku.”

“Mengapa kau mencari muridmu?”

“Untuk kubunuh.”

“Mengapa?”

“Melakukan kesalahan.”

“Apa kesalahannya?”

“Kesalahannya adalah melakukan kesalahan.”

“Rumit sekali.”

“Aku tak memintamu untuk mengerti.”

“Sudah berapa murid yang kau bunuh?”

“999.”

“Mengapa?”

“Melakukan kesalahan.”

“Harus dengan membunuh?”

“Melakukan kesalahan bukanlah yang kuajarkan.”

“Mungkin mereka khilaf.”

“Kekhilafan juga kesalahan.”

“Mengapa tak kau maafkan?”

“Hati manusia terlalu rapuh untuk mencerna kesalahan.”

Matahari mulai condong ke barat. Desa-desa dan kota-kota manusia perlahan mulai tertutup kabut. Sosok manusia laki-laki itupun mulai tertutup kabut. Namun angin tak mau menyerah.

“Apa yang kau ajarkan pada muridmu?”

“Semua hal kecuali melakukan kesalahan.”

“Manusia tak sempurna.”

“Aku tahu.”

“Kenapa tak kau maafkan?”

“Melakukan kesalahan bukanlah yang kuajarkan.”

“Keras kepala.”

“Aku tahu.”

“Sudahlah. Kau hanya beralasan saja.”

“Aku tak memintamu untuk mengerti.”

“Aku mengerti.”

“Kau tak mengerti.”

“Kau ingin membunuh muridmu, kan?”

“Bukan urusanmu.”

“Kau tak menerima kesalahan, kan?”

“Bukan urusanmu.”

“Oh, wahai guru. Betapa kejamnya dirimu.”

“Aku tak memintamu untuk mengerti.”

Angin pergi. Malam merambat turun dengan tenangnya. Desa-desa dan kota-kota manusia tak terlihat lagi. Sosok manusia laki-laki bermata belati tak terlihat lagi. Angin pergi.

Ketika malam berlalu, dan ketika matahari cahayanya menyentuh kabut yang mulai terbunuh, sang angin kembali. Dihampirinya sosok manusia bermata belati yang masih berada di tempatnya semula. Menatap tajam pada desa-desa dan kota-kota manusia, mencari sesuatu.

“Belum kau bunuh?”

“Bukan urusanmu.”

“Kapan kau akan membunuh?”

“Kau akan tahu.”

“Mau kubantu?”

“Bantu saja dirimu.”

“Mengapa?”

“Kau akan tahu.”

“Di mana muridmu?”

“Di antara manusia.”

“Yang mana?”

“Kau akan tahu.”

“Manusia bisa salah bisa benar.”

“Salah adalah salah, benar adalah benar.”

“Harus seperti itu?”

“Melakukan kesalahan bukanlah yang kuajarkan.”

“Mengapa selalu seperti itu?”

“Mau jadi muridku?”

“Nanti aku kau bunuh.”

“Berarti kau akan melakukan kesalahan.”

“Kau bisa mengajariku untuk tidak melakukan kesalahan?”

“Kau tak akan mampu.”

“Mengapa?”

“Aku tak mengajar angin.”

“Aku tak mengerti. Mengapa angin tak boleh belajar darimu?”

“Aku tak memintamu untuk mengerti.”

Angin pergi. Begitu kesal berputar-putar keras melabrak daun, melabrak rumput, bertiup kencang ke segala arah. Mendengung-dengung. Menyambar ke semua arah. Melarung desa-desa, melarung kota-kota, hutan-hutan, lembah-lembah, bukit-bukit, dan menerjang ke semua benua dan semua samudra selama berabad-abad lamanya. Setelah lelah ia kembali ke tempat sosok manusia laki-laki bermata belati yang menatap tajam ke desa-desa dan kota-kota manusia, mencari sesuatu.

“Belum kau bunuh?”

“Apa kau sudah lelah?”

“Benarkah kau guru?”

“Aku punya murid.”

“Aku benci padamu.”

“Cintailah kebenaran.”

“Aku bukan mahluk sempurna. Murid-muridmu juga tak sempurna. Kau juga tak sempurna. Semua mahluk tak sempurna. Mengapa tak boleh salah? Mengapa harus selalu benar? Bagaimana kalau aku tak tahu kalau aku salah? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku ingin berbuat benar? Bagaimana kau tahu kalau murid-muridmu juga ingin berbuat benar dan tak ingin berbuat salah? Mungkin saja dengan berbuat salah akan membawa kita pada kebenaran. Mungkin saja kebenaran didapat setelah melakukan kesalahan-kesalahan. Tak ada yang sempurna.”

Angin pergi. Amarahnya melontarkannya jadi serpihan-serpihan yang menyebar ke segala arah.

Sosok manusia laki-laki bermata belati itu masih diam. Berabad-abad sudah ia seperti itu. Diam dan terus mencari. 999 murid telah dibunuhnya. Ia akan menggenapinya setelah membunuh yang keseribu. Matanya yang belati menyorot tajam. Ia temukan apa yang telah berabad-abad dicarinya. Dengan gegas ia bangkit berdiri. Dihimpunnya seluruh kekuatan alam dalam tubuhnya. Menciptakan beliung yang berpusat di dadanya. Jubahnya berkibar-kibar. Ia rasakan desiran lembut angin di tengkuknya. Ditatapnya langit yang tinggi dan biru.

“Adakah kesempurnaan adalah bersandingnya kebenaran dan kesalahan?”

Jubahnya masih berkibar-kibar. Matanya yang belati menatap lurus, lurus ke puncak gunung.

MEMBUNUH WAKTU

adakah yang kau ingat
 dari derita ranting-ranting patah
 yang singgah di telingamu
 menyampaikan kepadamu narasi-narasi
 rindu yang berkarat
 oleh pudarnya waktu, bukan
 bukan mozart yang ingin kukomposisikan
 untukmu, bukan
 bukan monet yang ingin kulukiskan
 di kanvasmu yang begitu jemu
 menunggu aku yang sering kali
 lupa kalau siang akan berganti malam yang kelam
 ketika matahari di barat tenggelam dengan
 diam-diam. Hanya masalah waktu hingga
 aku siap menikam jemu di rambutmu
 yang tiap detik helai-helainya mati di pundakmu
 dan kau kutip satu-satu, “inilah waktu itu”, katamu
 padaku. Biarkan saja,
 waktu hari ini akan berganti kembali esok hari
 “aku akan siap”, kataku memastikanmu
 memastikan kesabaran di matamu yang mulai ragu
 “aku akan siap sebelum waktu membunuhku”.
 Dan tiap detik kau kutip helai-helainya yang mati
 di pundakmu, “inilah waktu itu, bunuhlah untukku”. 

 adakah yang kau ingat
 dari derita ranting-ranting patah
 yang singgah ketika waktu membunuhku?
 

Anjing menyalak pada bulan
 yang sendiri
 sementara pakupaku
 ditebarkan dari cemaracemara yang
 bergoyang mengikut aliran angin
 yang pengap oleh sesaknya
 makianmakian,
 bukan
 bukan anjing yang memaki
 karena anjing hanya bisa menyalak
 mengikuti instingnya sebagai
 anjing
 makian adalah makian
 titik paling pahit dari rasa
 ketika ada yang masih ingin sekedar
 berdiri agar mengerti
 kemana rodaroda nasib berlari. 

 Adakah kau bulan yang sendiri?
 Ataukah anjing yang menyalak?
 Ataukah makian yang tak dimengerti? 

 Ketika kau berlari di bawah bulan yang sendiri
 Sambil menyalak dan memaki sesuatu
 Yang tak pernah aku mengerti. 

 

Akulah Pesakitan Itu

akulah pesakitan itu yang begitu sukar mengunyah misteri senyummu yang selalu hadir ketika aku terjaga.jauh dari itu ketakberdayaanku menaklukkan bayang bayangmu membawaku pada jalan jalan sempit tak berujung di rongga mataku yang kuharap tersambung dan berakhir di rongga matamu. akulah pesakitan itu yang menantikan mataku di dalam matamu, beradu dan melupakan pekatnya malam di hari hari yang berjalan menjauh.akulah pesakitan itu yang begitu sakit ketika harus menerima bahwa di matamu ada mata lain yang kau tunggu. 

Aku Mencari Makna

aku mencari makna di tumpukan-tumpukan kata yang hilang ketika deru mesin-mesin kendaran berkejaran di jalanan waktu. adakah makna melekat pada debu yang tengadah, ataukah tersesat dalam selokan-selokan amis yang tersumbat? susunan cemara yang berbaris tak membantu menunjukkan arah rumahmu yang misteri seperti jalinan rambutmu yang sejati. adakah makna singgah lantas pergi dan entah kapan kembali? sekedar memadatkan kenangan yang terkadang hilang dan enggan mencari.
seperti mimpi
seperti mimpi
yang tak terbeli.
hangus
dibakar
sepi.
 

Benarkah Pencarian itu?

diakah kembara itu yang
merayu angin di tangannya
yang menangis oleh batu-batu zaman?
tak ingin kurayu ia dengan
lumuran kenangan yang
begitu mengikat
meski ingin kunikahi dan
kubawa dalam kamarku yang
kumuh benderang oleh debu rinduku pada deretan malam
yang ungu
benarkah itu dia
yang kucari dalam tiap dongeng
dongeng yang setia mengenalkanku
pada mimpi yang menggebu?
benarkah itu dia
yang kurindu dalam derita
rerantingan kayu yang lindap terpaku
pada kabut yang jatuh?

benarkah itu dia?

atau kau?

MENANTI

ketika musik itu karam menjelmakah
prosa dari celah deretan
gigi-gigimu yang putih ? sementara
rumput masih bergoyang dan di antaranya
begitu khusuk menerima bab demi bab
perjalanan prosesi kematian yang abadi.
selebihnya bertahan untuk meresapi arti
tegar dan kerendahan.
masihkah dari celah deretan
gigi-gigimu yang putih, kudengar lagi
prosa berlari mencari sarang, bertahan
pada lindap kesunyian yang paling hakiki
di bumi.
 

DI PINTU KELAS

kurengkuh anganmu tentang
manisnya dunia kecil
yang suatu saat ketika angin
berpulang kembali
kau sebut itu masa lalu,
dan di waktu itu begitu mau aku
kau ingat pernah kusapa
dengan kedekatan yang tak ingin
kujadikan imitasi
“selamat pagi”.

salju itu mencair
di dataran pipimu yang bagus
dengan begitu santun menyembunyikan
cahaya di matamu
yang sering menidurkan waktu
ketika hujan jadi logam
mengisi cawan retak di halaman paling
kutub dari diriku.
tahukah kau, ketika pagi
begitu manja bergelayut di pundak matahari
begitu inginnya aku menyeruput secangkir kopi
yang kau hidang dengan ketulusan hati
seorang wanita, kerap menjelma
jadi berepisode-episode mimpi indah
yang dengan gemetar kunikmati seorang diri
ketika matapun
masih berkeras terjaga. sungguh,
penantianku pada musim berbunga
begitu panjang dan berliku,
lalu
di mana kau sembunyikan hatimu?
 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!